Skip to content

Melaporkan Pelecehan Seksual, Haruskah?

Porsi saya disini sebagai orang awam yang juga merupakan salah satu korban pelecehan seksual.

Bentuk pelecehan seksual bisa berupa apapun dan terjadi dimanapun dan kapanpun. Bisa dimulai dari bentuk verbal dan non verbal. Bisa terjadi ditempat umum, tempat sepi bahkan tempat kerja sekalipun. Bentuknya bisa secara langsung dan secara tidak langsung. Apapun itu yang sangat membuat kita sangat tidak nyaman terutama yang berkaitan dengan hal berbau seksual memang seharusnya dihindari.

Bentuk pelecehan seksual yang saya alami merupakan sebuah bentuk yang cukup aneh dan agak bikin trauma bagi saya. Untungnya bentuknya adalah pelecehan secara pandangan. Yap. Seorang eksibisionis dengan bangga mengeluarkan punyanya didepan saya dan orang disekitarnya (anda tahulah apa yang dia lakukan berikutnya). Hal itu terjadi didalam angkutan umum dan waktu itu saya masih berusia 12 tahun. Yap. Saya sudah merasa tidak nyaman membicarakan hal ini. Sungguh tidak nyaman. Mengingatnya pun tidak nyaman sama sekali. Karena pada usia segitu pun saya masih buta soal seks.

Okay. Membuat pengakuan seperti ini pasti menimbulkan berbagai penilaian terhadap saya. Saya mengerti itu dan itu hak anda. Ketika saya memutuskan untuk menulis hal ini saya pun mengalami gejolak batin karena saya tahu banyak yang akan membacanya.

Ketika saya memutuskan untuk menulis hal ini gagasan yang keluar adalah, haruskah seseorang melaporkan dan menceritakan pelecehan seksual yang ia alami?

Beberapa saat yang lalu saya sempat membuka beberapa blog aktivis feminis dari berbagai belahan dunia yang membicarakan mengenai pelaporan pelecehan seksual.

Wanita yang mengalami pelecehan seksual dianggap (mau tidak mau) oleh masyarakat diharapkan untuk melaporkan kejadian tersebut agar wanita lain tidak terkena kejadian yang sama.

Fenomena ini memang sering terjadi, terutama banyak sekali pelaporan figur publik akan kasus pelecehan seksual. Terlepas mereka yang mencari ketenaran, namun budaya PELAPORAN PELECEHAN SEKSUAL memang dianggap wajib.

Namun disisi lain jika kita tidak melaporkannya, masyarakat (mau tidak mau) akan menilai seorang korban dengan berbagai label
yaitu korban malu, korbannya pecundang, korbannya ini korbannya itu dan lain halnya. Sama pula jika kita melapor maka orang akan menilai bahwa korbannya berani, tangguh bahkan ada yang menilai mencari sensasi. Apapun itu memang urusan anda untuk menilai.

Terlepas pula dari penilaian masyarakat, sesungguhnya apakah KORBAN WAJIB MELAPORKAN PELECAHAN SEKSUAL?

Tidak.

woman do not owe

Wanita tidak wajib melaporkan pelecehan seksual karena dia tidak berhutang pada siapapun akan kejadian yang dia alami. Kejadian itu pula bukan kesalahannya. Dan jikapun wanita lain mengalami hal itu, kejadian itu bukan salah kamu. Kejadian itu adalah salah si peleceh.

People who have been sexually assaulted do not owe other people shit. Their only responsibility is to take care of themselves in the best way that they are able. Hopefully, they have actually supportive people around to help take care of them. Hopefully, they have the resources, whatever those resources might be, available to feel safe again.

But my hope does not override my realism; many people do not have those resources. And when folks insist that rape must be reported to prevent rapists from preying on other people, it increases the already unreasonable burden on those who may be struggling.

Our system is bullshit. Guilting people into subjecting themselves to it in the hopes that the system will change sacrifices the well-being of the very people who have already been failed by our rape culture.

Source: http://www.xojane.com/issues/you-owe-it-to-other-women-why-you-dont-owe-it-to-anyone-else-to-report-your-rape

Dari beberapa tulisan pengalaman yang saya baca. Saya akhirnya keluar untuk menyuarakan hal yang pernah terjadi pada saya. Saya memang tak melaporkannya. Tapi menuliskan dan menceritakan hal ini memang sudah cukup. Saya mungkin termasuk kurang beruntung. Untuk sepuluh tahun sejak kejadian itu terjadi saya memutuskan untuk diam. Saya memang tak menceritakannya, hanya sedikit yang tahu, dan kejadian itu memang menjijikkan bagi saya.

Kalaupun memang ada yang ingin melaporkannya, itu hak kamu, karena kamu memang butuh dukungan setelah melalui hal buruk itu. Dan jika tidak, kamu pun berhak mendapatkan dukungan dari orang orang sekitar.

Apapun keputusan yang kamu lakukan, pastikan kamu melakukannya dengan penuh logika dan tak hanya mencari sensasi semata. Lakukan apa yang membuat kamu dapat melalui hal itu. Lakukan apa yang membuat kamu nyaman. Lakukanlah.

Dengan saya menulis ini, saya tidak mencari sensasi, atau belas kasihan.
Saya mengungkapkan apa yang terjadi pada saya.
Saya pula tidak menyarankan untuk menghindari pria namun untuk lebih berhati-hati.
Saya menulis tidak untuk dinilai.
Saya menulis ini agar semua siapapun itu yang pernah mengalami pelecehan seksual dalam bentuk apapun dapat mengambil tindakan untuk dirinya sendiri.
Tidak untuk orang lain.

Karena kamu adalah wanita, dan kamu tidak berhutang pada siapapun kecuali diri kamu sendiri.

 

Refrensi Bacaan:
“YOU OWE IT TO OTHER WOMEN:” WHY YOU DON’T OWE IT TO ANYONE ELSE TO REPORT YOUR RAPE
CHOOSING NOT TO REPORT A RAPE AS A FORM OF SELF-CARE

saam_logo_1

Be First to Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: