Skip to content

Intensive Care . 01 – Pilot

Tiana seperti dokter gigi lainnya yang baru saja lulus dari program kedokteran gigi ternama di eropa diberi kesempatan untuk bekerja dengan tante, sepupunya dan sepupu iparnya. Namun dilain pihak ia berusaha mencari perkerjaan lain diluar praktik keluarganya. Ia akhirnya ditawari sebuah perkerjaan disalah satu rumah sakit oleh salah satu seniornya, Prasti yang menjabat sebagai salah satu direktur rumah sakit.

“Tiana, aku senang kamu datang. Kita sudah siapin posisi yang cocok buat kamu. Kamu akan menjadi salah satu tim PR rumah sakit ini,” kata Prasti tanpa basa basi panjang lebar.

“Oh bukan sebagai dokter gigi?”

“Sayangnya slot dokter gigi kita sudah penuh, kita lagi butuh banget tim Public Relation untuk mendongkrak nama rumah sakit kita, dan menarik banyak investor dan donatur.”

Sesaat gambaran Tiana kerja sebagai dokter gigi dirumah sakit tersebut sirna. Dia tahu dia sangat hebat dalam pekerjaannya sebagai PR tapi dia sangat merasa tak dianggap sebagai dokter gigi. “Bagaimana saya bisa mempromosikan pelayanan rumah sakit kalau saya tidak tahu apa yang ada dipromosikan?”

“Kita akan kasih kamu beberapa guideline untuk bahan kamu nanti.”

Tiana mengerutkan dahinya dan berfikir keras. Dia bisa saja terima pekerjaannya sebagai tim PR tapi hal ini begitu merendahkannya sebagai dokter gigi. Ia berdiri dan mengambil tasnya.  “Maaf ka Prasti, tapi aku lebih baik kerja diklinik kecil sekalipun daripada harus mempromosikan sesuatu yang aku tidak tahu sama sekali.” Ia tersenyum dan meninggalkan ruang kerja Prasti.

Tiana merasa begitu kesal karena di benar-benar tidak dianggap. Dia tahu dia tidak pandai seperti teman-temannya di bangku kuliah dulu tapi sudah banyak yang berubah dan dia berhak mendapatkan lebih dari yang dia pantas.

Tiana berjalan menyusuri lorong rumah sakit tanpa memperhatikan sekitarnya. Sesaat matanya berhenti dipapan nama dokter gigi yang berkerja disitu dan nyatanya toh masih dikit dokter gigi yang terjadwal. Akhirnya ia terus berjalan dan memandang terus kedepan tanpa memerhatikan orang yang lewat lalu lalang disekitarnya.

“Tiana?” seseorang memanggilnya dari belakang.

Tiana sedikit berharap bahwa itu Prasti namun ketika ia berhenti dan menoleh untuk mencari tahu siapa yang memanggilnya. Begitu kagetnya ia ketika mengetahui siapa yang memanggilnya.

“Isaac!” Tiana langsung memeluk teman lamanya saat dibangku kuliah. Sejarah pertemanannya dengan Isaac pun panjang namun dia adalah orang yang membuatnya lebih baik.

“Kok lo ada disini?” tanya Isaac setelah melepas pelukkan Tiana. “Bukannya lo di Eropa yah?”

“Pendidikan gue udah selesai.”

“Terus?”

“Gue cuma ketemuan sama temen gue aja kok.”

“Oh gitu. Harusnya lo bilang lo udah balik.”

“Tadinya sih mau begitu tapi enggak kepikiran.”

“Sekarang jadi praktek dimana?”

“Ada klinik keluarga. Kalo lo?”

“Gue masih pendidikan disini. Lo taulah, bedah jantung.”

“Wow. Itu keren banget sumpah.”

Isaac tersenyum kecil. “Yeah seru tapi jam kerjanya bener-bener deh. Oh ya udah makan belum? Sebentar lagi jam kerja gue selesai dan gue tinggal enggak jauh dari sini, kalau lo mau kita bisa delivery.”

Tiana teringat hari hari masa mudanya dan seketika ia merindukan itu semua. “Okay!”

 

Prasti cukup kaget ketika melihat Tiana dan Isaac jalan bareng keluar dari rumah sakit. Tiba-tiba ia merasa seperti ditusuk dari belakang. Jelas sekali ia menyukai Isaac tapi Isaac tak pernah menanggapinya.

XXX

Isaac dan Tiana berbaring telanjang samping-sampingan dan hanya tertutupi oleh selimut saja. Mereka berdua kehabisan nafas setelah berusaha membuat senang satu sama lain.

“Setelah lima tahun dan lo masih perawan?” Isaac kaget ketika teman mainnya semasa kuliah dulu ternyata masih rapat.

“Terus kenapa?” tanya Tiana terheran-heran.

“Lo tinggal dibudaya barat dimana seks bukan hal yang tabu dan lo masih bisa ngejaga itu tetap rapat. Apa lo enggak tergoda?”

“Tergoda sih jelas iya, tapi mau gimana lagi? Gue lebih memilih untuk tetap rapat. Tapi seenggaknya lo seneng kan? Gue makin mahir kan?”

Isaac menatap Tiana dengan tatapan tak percaya dan tersenyum. “Lo luar biasa.” Ia menciumi Tiana kembali.

XXX

Saat makan malam keluarga, Prasti duduk bersama dengan ayahnya, Billy dan kakaknya, Hugo.

“Gimana? Udah dapet orang PR?” tanya Billy sebelum memasukkan makanan kedalam mulutnya.

“Dokter gigi yang aku ceritain enggak mau kalau cuma jadi PR aja, dia maunya kerja juga sebagai dokter gigi di rumah sakit,” cerita Prasti.

“Yaudah harusnya lo bisa kasih dia jam kerja dong,” kata Hugo.

“Aku enggak bisa, sudah penuh.”

“Ayah udah baca profilnya dan dia cocok banget untuk jadi PR kita. Dia yang Ayah mau, dan kamu harus dapatin dia untuk kerja sama kita.”

“Tapi Yah, slotnya udah penuh.” Sebenarnya Prasti kesal dengan Tiana karena belum kerja pun dia sudah mengambil seseorang yang begitu dia inginkan.

“Yaudah potong jam kerja yang lainnya, gampang kan?”

“Tapi Yah semua dokter gigi yang kerja di RS itu temanku semua. Aku mau bilang apa sama mereka?”

“Kalau gitu potong jam kerja lo aja,” celetuk Hugo.

“Hugo benar, kamu kan udah punya praktek dimana-mana,  apa salahnya kamu kasih jatah kerja kamu keorang lain yang lebih membutuhkan?”

Prasti menghela nafas. “Oke kalau itu yang Ayah mau.”

XXX

Prasti harus memalsukan senyumnya ketika bertemu dengan Tiana dikantornya.

“Tiana, maaf soal insiden kemaren, aku baru inget kalau masih ada slot untuk dokter gigi, dokter gigi yang satunya lagi baru aja resign dan kamu bisa kerja disini mulai besok sebagai dokter gigi dan PR.”

“Serius? Beneran? Wah makasih banyak yah kak. Saya janji akan tetap fokus dengan tugas ku sebagai PR.” Tiana terdengar begitu antusias.

“Ini kontrak kamu, jadwal kerja kamu dan sedikit guideline dari rumah sakit untuk kamu. Kamu bisa mulai besok.” Tiana menyodorkan beberapa lembar kertas dan surat-surat untuk Tiana diatas mejanya.  “Pelajari isinya dulu baru tandatangan yah.”

“Oke.” Tiana mengambil segepok kertas-kertas dan berdiri. “Terima kasih banyak kak. Saya enggak akan ngecewain kaka. Saya permisi dulu yah.”

XXX

Hugo sedang terburu-buru menjawab panggilan pager dari salah satu bangsal dan tak sengaja menabrak Tiana yang sedang berjalan keluar dari kantor Prasti hingga berkas yang dia bawa jatuh berceceran.

“Hey!” teriak Tiana.

Namun Hugo tak menghiraukan teriakkan Tiana, ia harus segera menyelamatkan pasiennya yang sedang sekarat.

Hugo tiba diruangan salah satu pasiennya yang sudah ditangani oleh Isaac terlebih dahulu. “Apa yang baru aja lo lakuin Dokter Isaac?” Ia langsung mengambil alih penanganan pasien dari Isaac.

“Saya lakuin apa yang dokter minta.”

“Apa Anda yakin Anda melakukannya dengan benar? Karena jika benar pasiennya tidak akan seperti ini sekarang. Kita harus bawa dia keruang operasi sekarang.” Hugo mengambil alih komando dan memimpin suster dan dokter lainnya menggiring pasien keruang operasi.

XXX

Sambil mempelajari berkas-berkas kontraknya, Tiana duduk seorang diri di kamarnya sambil menikmati film-film dari TV kabelnya dan memakan lasagna yang dia beli tadi siang dirumah sakit.

Pintu apartemen Tiana berbunyi, padahal dia tidak mengharapkan kedatangan siapapun. Ia berjalan menuju pintu apartemen dan membukakan pintu untuknya. Ia menemukan Isaac berdiri dibalik pintu. Isaac tampak begitu lesu.

“Isaac, lo kenapa?” tanya Tiana.

“Uh… Lo lagi sibuk?”

“Enggak kok. Masuklah.” Tiana membiarkan Isaac masuk keapartemennya. “Mau gue buatin sesuatu?” Ia tahu ada sesuatu yang membuat Isaac tampak muram.

“Enggak, enggak usah.” Isaac menarik tubuh Tiana dan mulai menciumnya.

One Comment

  1. rizka farizal rizka farizal

    seorang dentist bikin FF dg pelakunya dentist pasti okelah
    keren tulisannya
    tetap semangat bikin fiksi yah

Leave a Reply

%d bloggers like this: