Skip to content

Intensive Care . 02 – Praktek Keluarga

Pagi-pagi buta Tiana sudah ada di Klinik Kesuma. Klinik Kesuma didirikan oleh keluarga besarnya yang beranggotakan oleh beberapa dokter gigi. Namun dilain itu, Klinik Kesuma tak hanya memperkerjakan dokter gigi, mereka juga memperkerjakan dokter penyakit dalam, kandungan, umum dan psikolog. Dari sepuluh dokter yang kerja diklinik tersebut lima diantara mereka adalah anggota keluarga besar Tiana.

Pagi itu, Tiana meminta dokter Alisa yang bertugas sebagai dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan lengkap untuknya. Karena ia tak menginginkan keluarga besarnya tahu ia memeriksakan rahimnya, ia meminta dokter Alisa untuk datang pagi dan memeriksakannya serta menggantikan nama pasiennya.

Setelah diperiksa, Tiana memastikan kembali Alisa tak akan memberitahukan hasilnya kesiapapun.

“Dok, jangan kasih tahu hasil kesiapa-siapa yah. Kalau udah keluar langsung kasih tahu aku.”

“Iya tenang aja yah, nama kamu akan aku ganti ke Sarah Putri gimana? ”

“Iya boleh. Jadi kapan hasilnya keluar?”

“Nanti siang sudah keluar.”

“Ok aku tunggu yah. Terima kasih yah dok.”

“Panggil saja saya Alisa.”

Tiana tersenyum dan berjalan keluar dari ruangan Alisa, dan tak sengaja bertemu tante Asti dipantry klinik

Tante Asti adalah pemilik klinik tersebut dan Tiana berjanji akan membantu membangun nama untuk Klinik Kesuma karena hal tersebut adalah impian keluarga besar mereka.

“Tiana, kok udah disini?” tanya tante Asti ketika bertemu Tiana yang sedang duduk dipantry Klinik Kesuma.

“Eh tante, iya nih. Aku datang pagi-pagi biar gak macet.”

Tak lama sepupunya dan sepupu iparnya, Adi dan Nia datang disusul oleh anak dari tante Asti, Rina. Nia datang membawakan makanan yang ia masak.

“Loh kok pada datang pagi semua?” tanya Tiana.

“Oh tante Asti belum kasih tahu yah kita ada pertemuan rutin tiap pagi hari selasa biar kita semua bisa kumpul,” kata Adi.

“Aku baru tahu tuh.”

“Sekarang udah tahu kan?” kata tante Asti.

“Gimana kerja di rumah sakit? Seru gak?” tanya RIna

“Seru seru.”

XXX

Setelah jam jaga Tiana selesai di Klinik Kesuma, sudah saatnya Tiana pergi menuju RS dan melanjutkan kerjanya sebagai PR namun sebelum Tiana melangkah keluar dari klinik, Alisa mencegatnya.

“Tiana, hasilnya sudah keluar,” bisik Alisa.

“Oh ya gimana hasilnya?” tanya Tiana.

“Lebih baik kita bicara diruanganku aja yah.”

“Oh oke.”

XXX

Setelah mendengarkan prognosis Alisa, Tiana hanya terdiam. Dia bahkan tak banyak bicara saat tim PR nya sedang membahas strategi pemasaran rumah sakit dan image yang akan ditampilkan.

Menerima kabar yang begitu berat saat karirnya sedang berjalan dengan baik membuat Tiana pusing.

Tiana tak habis fikir. Diumurnya yang keduapuluhtujuhjumlah telurnya lebih dikit daripada wanita normal seusianya. Itu berarti dia harus segera menikah jika ia ingin memiliki anak. Karena budaya Indonesia yang menganggap punya anak diluar pernikahan adalah tabu jadi mau tak mau ia harus menikah dan mencari pasangan yang mau memiliki anak bersamanya.

Dan hal yang Tiana benci dari mencari pasangan adalah hal sepele seperti kenalan, pendekatan, membiasakan diri dengan pasangannya yang baru, dan banyak hal lainnya yang benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Mungkin lebih baik dia punya anak diluar nikah.

“Dok? Dok?” salah satu staff PR membangunkan dia dari lamunannya.

“Maaf banget, saya lagi banyak pikiran. Oke, sudah saya pikir matang-matang, konsep rumah sakit yang akan kita pasarkan. Karena rumah sakit ini milik keluarga dari dokter Prasti, maka saya kira kita akan memasarkan rumah sakit ini sebagai rumah sakit keluarga yang sangat nyaman. Dan tentu saja kita memberi pelayanan kekeluargaan. Dilain itu kita bisa jadikan wajah-wajah dari keluarga dokter Prasti sebagai model di billboard sehingga semua orang percaya bahwa yang melayani mereka adalah sebuah keluarga yang mendedikasikan kehidupan mereka untuk kesehatan keluarga-keluarga lain.”

“Itu ide bagus.”

“Maaf banget tapi saya banyak urusan hari ini. Rapat saya bubarkan. Rapat berikutnya pastikan kalian punya market plan dan rincian konsepnya yah.”

Staff-staff PRnya meninggalkan ruang rapat dan meninggalkan Tiana sendirian.

XXX

Tiana memutuskan untuk jalan jalan mengelilingi rumah sakit dan mempelajari peta rumah sakit. Secara tak sengaja ia nyasar kesalah satu bangsal bayi dimana para bayi sedang mendapatkan perawatan intensif. Ia memerhatikan bayi bayi mungil yang sedang tertidur pulas serta para perawat dan dokter yang berusaha memberikan perawatan terbaik.

Tiba-tiba tatapan Tiana jatuh pada Isaac yang sedang mengembalikan salah satu bayi ketempat tidurnya. Isaac pun melihat Tiana juga dan memberi aba-aba untuk masuk kedalam bangsal dan menemuinya.

“Hey, emangnya boleh gue masuk?” tanya Tiana seketika menghampiri Isaac..

“Boleh.” Isaac merapihkan selimut bayi melalui inkubator.

“Bukannya lo ngambil spesialis bedah jantung yah.”

“Iya.”

“Terus lo ngapain disini?”

“Gue habis asistenin atasan gue untuk transplantasi jantung ke anak ini, dan tugas gue sekarang adalah memonitor kondisinya dan memastikan semuanya baik-baik aja.”

Tiana terdiam untuk beberapa saat dan mengamati bayi yang ada dihadapannya. “Apa lo suka anak-anak?”

“Suka.”

“Pengen punya anak?”

“Gue enggak yakin mau atau ga dalam waktu dekat ini. Kenapa emangnya?”

“Oh enggak papa.”

“Lo mau punya anak?”

“Ya pasti gue mau banget. Kenapa lo enggak yakin mau atau gak?”

“Waktunya lagi enggak pas, lagian program residensi gue ini bikin gue sibuk banget.”

“Hey dokter Isaac!” panggil seseorang dari pintu bangsal.

Issac menoleh dan mendapati dokter Hugo. “Ya dok?”

“Tolong laporkan kondisi bayinya tiap satu jam yah, pastiin bayinya enggak nolak jantungnya.”

“Baik dok.” Isaac kembali memfokuskan diri kepada bayinya.

“Siapa tadi?” tanya Tiana.

“Atasan gue yang gue bantu operasi tadi.”

“Kok sengak sih?”

“Emang sengak dan resek.”

“Siapa namanya?”

“Hugo.”

Perhatian Tiana tiba-tiba tertuju pada pasangan muda yang sedang mengunjungi bayinya. Ia begitu terharu melihat kebahagiaan mereka dan ia begitu menginginkannya. Ia menetaskan air matanya.

“Tiana, kok lo nangis?” tanya Isaac.

“Ah enggak kok gue kelilipan aja. Gue balik dulu yah.” Tiana menghapus air matanya dan pergi meninggalkan Isaac.

XXX

Hugo berjanji untuk makan siang dengan ibunya dikantin rumah sakit. Mereka duduk berdua sambil berbicara banyak hal. Tak lama seorang dokter wanita datang menghampiri meja mereka.

“Siang dok, tadi katanya dokter Tina mau ketemu saya?” tanya dokter wanita tersebut.

“Ah ya dokter Lisa, saya dengar kamu sedang melakukan riset, dan saya rasa kamu perlu diskusi dengan dokter Hugo. Dia spesialisasi dijantung dan riset kamu berkaitan dengan jantung kan?” Tina terlihat begitu semangat memperkenalkan Lisa dengan Hugo. “Lisa ini Hugo, kebetulan dia anak saya, dan Hugo ini Lisa.

“Hai, saya Lisa. Saya cukup dengar banyak tentang laporan kasus kamu.” Lisa mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Hugo.

Hugo menatap Tina dengan tatapan penuh pertanyaan dan menatap Lisa kembali. Ia menyambut salaman dari Lisa. “Kamu baru yah disini? Aku belum dengar banyak soal riset belakangan ini.”

“Iya, saya memang baru. Mungkin saya boleh sambil makan siang sambil ngomongin ini?”

“Ah ya tentu saja, Silahkan.”

“Saya pesan makanan dulu yah. Kalian mau saya pesankan sesuatu?”

“Bisa pesanin saya kebab?” tanya Hugo.

“Ya tentu saja.” Lisa kemudian pergi meninggalkan meja.

Hugo tahu ibunya sedang berusaha menjodohkan mereka, namun hal tersebut tak membuatnya senang. “Ibu, lagi nyoba jodohin saya yah?”

“Dia cantik, pintar, dan kelihatannya menarik.”

“Ibu, sudah berapa kali saya bilang, saya enggak perlu dijodoh-jodohin.”

“Tapi umur kamu udah tigapuluh enam dan kamu masih single!”

“Terus kenapa? Prasti juga masih single dan umurnya udah tiga puluh tahun. Kalo menurut pandangan sosial dia udah dianggap perawan tua.”

“Iya makanya ibu jodohin dia juga.”

“Ibu enggak perlu jodohin saya.”

“Kalau begitu menikahlah! Kasih ibumu ini cucu.”

Hugo memutar bola matanya. “Ibu mau cucu?”

“Ya, ibu mau punya cucu! Ibu ini udah tua dan ibu masih berkerja karena ibu enggak ada kerjaan lain. Kalau ada cucu kan ibu bisa pensiun.”

“Ibu bisa pensiun tanpa harus mikirin cucu kok.”

“Ayolah Hugo, jangan lakuin ini ke ibu kamu.”

“Ibu, saya bosan ketemu cewek, kenalan, pedekate enggak jelas, terus belum tentu dia terima saya apa adanya, terus ini terus itu, ribet deh.”

Tina menghela nafas. “Jadi ibu harus terima kalau ibu akan meninggal tanpa menjadi nenek terlebih dahulu?”

“Ayolah ibu…”

Lisa pun tiba dengan nampan berisi makanan dikedua tangannya. “Hey, maaf yah lama, tadi kebabnya agak ngantri.”

Hugo pun berdiri dan mengeluarkan uang. “Maaf yah, saya lupa, saya ada janji ketemu seseorang. Ini uangnya buat kebab tadi.” Ia mengambil kebab dan pergi meninggalkan meja.

XXX

Sangking kesalnya dengan Tina, Hugo memutuskan untuk makan sembunyi-sembunyi dan menghindari perjodohan yang dilakukan oleh ibunya. Ia pergi kesalah satu tangga darurat dan makan disana. Namun ketika ia tiba di tangga darurat, ia berhadapan dengan orang yang sedang memojokkan diri dan menangis terisak isak.

Karena Hugo sudah terbiasa menghadapi keluarga pasien dan memberikan kabar buruk kepada mereka, dia berinisiatif untuk menenangkan wanita yang sedang menangis kencang tersebut. “Bu, ibu enggak papa kan?”

Wanita itu terus menangis.

“Apa ada yang bisa saya bantu? Mungkin panggil keluarga ibu atau mengurus keluarga ibu?”

“Enggak enggak, saya enggak papa kok.” Tiana mengangkat kepalanya dan kaget mendapati Hugo disampingnya. Ia berhenti sejenak untuk menyadari Hugo si-dokter-sengak sedang berusaha menenangkannya.

“Lalu kenapa ibu menangis?”

“Telur gue hampir habis!” Tiana kembali menangis kencang.

“Maksudnya telur?”

“Ovum gue hampir habis padahal umur gue masih duapuluh delapan.”

Hugo mengerutkan dahinya. “Lalu kenapa ibu tidak menikah dan punya anak?”

“Gue capek kenalan sama orang baru, terus inilah, itulah, belum tentu cocok, terus kapan gue punya anaknya?!” Tiana kembali menangis.

“Jadi lo capek pendekatan sama orang tapi lo mau punya anak?”

“Iya.”

“Lo ga musti menikah untuk punya anak.”

“Tapi gue tinggal di Indonesia. Gue nyesel balik kesini.”

Hugo memegang kedua lengan Tiana dan berusaha menghapus air mata Tiana. “Kayaknya gue punya solusi untuk masalah lo deh.”

Tiana berhenti menangis dan sejenak memerhatikan Hugo. “Maksudnya?”

“Menikahlah sama gue dan punya anak dari gue.”

“Apa?”

“Iya, lo mau gak nikah sama gue? Dan punya anak dari gue? Gue dokter disini, genetik gue bagus, gue enggak ngerokok apalagi minum, gue sehat walafiat.”

“Maksud lo apa ngajak gue menikah? Gue enggak kenal lo sama sekali.”

“Dengerin yah, nyokap gue itu maksa gue buat nikah supaya gue bisa kasih dia cucu. Gue sayang banget sama nyokap gue, dan gue akan kasih apa aja untuk dia, tapi dia maksa banget gue nikah dan punya anak cuma gue juga enggak tahan pedekate terus ini, terus itu.”

“Iya tapi gue enggak kenal lo sama sekali, mana bisa gue menikah sama orang yang gue enggak kenal.”

“Well kita punya kesamaan, gue butuh punya anak agar nyokap gue berhenti ngejodohin gue dengan cewek-cewek diluar sana, dan lo enggak mau kehabisan telor untuk bisa punya anak kan?”

“Ya tapi tetap aja gue enggak kenal lo.”

Hugo memutar bola matanya. “Gue Hugo, gue dokter konsulen jantung disini, dan lo?”

“Tiana, gue dokter gigi dan kepala PR.”

“Oh lo Tiana. Ya ya ya, gue udah dengar nama lo. Jadi kapan kita nikah?”

“Apa? Jadi lo serius?”

“Ya iyalah gue serius. Lo mau gak nikah sama gue?”

“Tapi kan kita belum kenal pribadi masing-masing?”

“Gini deh, kita kasih waktu sebulan untuk kenalan. Kalau kita merasa cocok dan bisa menyesuaikan dengan kehidupan masing-masing, kita lanjut. Gimana? Kita bisa lakuin banyak hal bareng dan coba tinggal bareng, daripada kita pedekate enggak jelas, terus jual mahal terus ini terus itu. Lo mau?”

Tiana menggelengkan kepalanya dan mengatakan “enggak mau.”

“Yaudah kalau gitu kita nikah aja. Mau kan?”

“Umm… Gue kira seenggaknya lamaran gue bakal sedikit romantis gitu.”

Hugo memutar bola matanya. Ia kemudian berlutut disatu lutut dan mengeluarkan kebab dari jas dokternya. Ia membuka bungkus kebanya dan menawarkannya kepada Tiana. “Dokter gigi Tiana, dokter dan kepala tim PR rumah sakit ini, gue tahu lo pengen punya anak, dan nyokap gue enggak ada abisnya jodoh-jodohin gue, maukah engkau menikahi ku?”

“Kalau kebab ini enak, gue bakal terima.”

Hugo mengangkat bahunya dan memerhatikan Tiana yang mengigit kebab ditangannya.

“Hmm… Enak. Oke deh gue terima.”

Be First to Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: