Skip to content

Merebut kembali kepemilikan tubuh

Selama saya dibesarkan, saya jarang sekali diajarkan mengenai seksualitas terutama mengenai kepemilikkan tubuh saya. Tubuh saya milik publik. Publik yang menentukan saya harus berpakaian seperti apa. Publik yang menilai tubuh saya. Publik juga lah yang pantas menyentuh tubuh saya.

Saya dibesarkan dengan paradigma bahwa tubuh saya milik publik, maka dari itu publik lah yang berhak menentukan bagaimana saya harus memperlakukan tubuh saya.

Dan ketika saya beranjak dewasa saya mengalami tahap yang mebingungkan dimana batas wajar yang boleh orang asing sentuh.

Trauma masa kecil saya mulai dari ketika saya masih SMP, seorang pria yang dengan bangganya bermasturbasi didepan saya dala sebuah angkot. Pada saat itu saya tak mengerti apa itu masturbasi dan tak ada pun yang berani menggentikan orang itu. Rasa jijik saya masih teringat hingga hari ini.

Kemudian tatkala saya sedang dikendaraan umum juga, ada seoarng pria yang duduk dibelakang saya dengan sengaja terus-terusan menyolek saya. Saya pun tidak mengerti apakah itu disengaja atau tidak? Hal ini sering sekali terjadi.

Pada saat itu, saya masih SMP dan baru beberapa tahun awal sekolah di Indonesia, jadi saya tak mengerti apa yang lazim bagi norma masyarakat Indonesia. Seorang tukang ojeg pun berani pula menanyakan hal hal yang aneh-aneh pada saya. Panggil-panggil saya Pacar lah.

Sayangnya hal hal ini terjadi ketika saya masih SMP. Ketika saya clueless, tak berdaya dan bodoh. Sulit sekali untuk memahami mana yang wajar atau tidak. Orang tua pun jarang mendidik saya mengenai kepemilikkan tubuh saya. Saya seringkali disalahkan karena saya memakai baju yang terbuka. Terbuka dari mana? Saya pakai baju seragam SMP. Dan kalaupun saya pakai baju terbuka ini tubuh saya. Salah dia tidak bisa menahan nafsunya.

Masyarakat selalu menyalahkan korbannya, bukannya menelusuri kenapa si penindak kejahatan seksual melakukannya. Saya kecewa dengan beigtu banyak hal dan saya baru bisa memahami semua ini ketika saya sudah berumur 22 tahun.

Kalau awalnya saya diajari bahwa tubuh ini milik saya bukan milik publik, mungkin saya sudah menghindari bergitu banyak pelecehan seksual yang saya alami dan menjerat orang orang tersebut. Memiliki pengalman-pengalaman buruk seperti itu membuat saya cukup frustasi dengan kehidupan di Indonesia. Semuanya serba salah. Semuanya serba tidak mengenakkan.

Semoga kekecewaan ini bisa menajdi pelajaran berharga bagi banyak orang.

Be First to Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: