Film LIMA Mengajak Kita Merefleksi Pancasila

Tak disangka siapapun yang menyusun Pancasila telah benar-benar matang memikirkan bagaimana kelima unsur tersebut ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Film Lima adalah film yang cukup merepresentasikan bagaimana kita menerapkan Pancasila dalam keseharian kita. Setiap kisah yang diangkat memiliki landasan atas kelima sila yang didapati di Pancasila.

Film Lima mengangkat kisah mengenai lima orang yang hidup bersama dengan ragam masalah berbeda yang dialaminya. Konflik dimulai ketika ibu Maryam meninggal dan ketiga anaknya harus mengurus dan mengubur jenazahnya dibantu oleh asisten rumah tangga yang telah lama mengabdi. Banyak tegangan yang harus mereka hadapi tatkala Fara sang sulung bimbang untuk memberikan izin kepada adiknya Aryo yang berbeda agama dengan ibunya agar ia bisa ikut turun keliang lahat dan mengantar ibunya ketempat peristirahatan terakhir. Konflik-konflik kecil lainnya dalam keluarga pun segera bermunculan serta menunjukkan bagaimana keluarga yang memiliki anggota beda iman harus menghadapi cemohan dan resistensi dalam masyarakat hanya karena perbedaan keyakinan tersebut.

Fara yang berkerja sebagai pelatih atlit renang disebuah klub renang. harus kembali menemukan kebimbangan tatkala atasannya menginginkan ia untuk memilih atlit renang yang berasal dari kalangan pribumi untuk bersaing di Asian Games. Ia harus dihadapkan pada dua pilihan antara memilih atlit renang yang terbaik yang menurut penilaian objektifnya jatuh pada muridnya yang beretnis tionghoa, atau pada atlit lainnya yang sangat disanjung oleh atasannya hanya karena ia seorang pribumi. Fara akhirnya memilih untuk mengundurkan diri karena ia tidak ingin terlibat dalam proses yang korup.

Anak kedua, Aryo memiliki masalahnya sendiri tatkala ia tidak dapat menemukan titik temu dengan rekan kerjanya hingga akhirnya ia dipecat oleh rekan bisnisnya sendiri. Yang seharusnya masalah diselesaikan dengan cara musyawarah namun ia tak berhasil untuk duduk bersama dan berdiskusi dengan baik. Hal serupa juga dialaminya ketika adik dan kakaknya harus menghadapi notaris yang hendak membagikan warisan ibunya kepada anak-anaknya. Ia dengan susah payah meyakinkan adiknya, Adi untuk mau menandatangani surat warisnya. Namun karena emosi Adi yang masih labil, ia marah ketika mengetahui kakaknya akan pergi dan sibuk dengan duniaya sendiri.

Adi yang masih SMA sangat labil terutama setelah menghadapi kematian ibunya. Kemudia ia mencari kedamaian pada alat musik dan temannya yang merupakan penjaga toko alat music vintage yang juga menjadi teman diskusinya. Mereka berdiskusi mengenai tindakan masyarakat yang suka menghakimi dan mempersekusi sesuka mereka termasuk temannya sendiri yang kerap merisak dan membully dirinya paska kematian ibunya. Ia memilih untuk tidak meladeni temannya dan pergi jauh menghindarinya. Hingga akhirnya ia terjebak dalam perkara penghakiman massa dimana temannya yang sering membullynya ikut dalam membakar seorang maling.

Bi Ijah yang selama ini berada dibelakang pemersatu keluarga tersebut memutuskan untuk pulang kekampung halamannya untuk bersama kedua anaknya, namun sayangnya anak-anaknya harus masuk penjara karena mencuri dari sebuah perkebunan didekat rumah mereka. Kedua anaknya pun diadili dipengadilan hanya karena mencuri beberapa tanaman yang tidak bernilai sebeberapa.

Kisah-kisah yang diangkat dan yang disinggung tidak asing dari bagaiamana masyarakat menyikapi situasi tertentu. Dari masalah keyakinan agama, persekusi, rasisme, keadilan serta kesetaraan dijahit dalam sebuah cerita yang utuh dan menyentuh realitas kita sehingga kita merasa dekat dengan filmnya. Film ini juga mengajak kita berfikir dan meresapi nilai-nilai kemanusiaan dalam menganggapi ragam masalah dan perbedaan.

Kita kurang banyak memiliki narasi yang mengajak kita berdialog untuk diri sendiri. Seringkali masyarakat lebih suka menerima sebuah kebenaran tanpa berfikir dan merefleksikannya kedalam konteks masyarakat. Yang sering terjadi adalah mereka menerima informasi tanpa memilah-milah dan hanya mencari kenyamanan untuk ego golonganya saja tanpa berfikir untuk kebaikan bersama dan berbeda golongannya.

Film ini dikemas dengan pengambilan gambar yang menarik dan tidak menghilangkan emosi didalamnya. Perasaanmu pun akan terbawa dalam bagaimana kamera mengikuti gerakan para aktor ketika memerankan adegannya. Selain itu warna-warna yang dipilih untuk menemani gambar terlihat begitu sesuai realita yang ada. Gambar-gambar lokasi yang ditunjukkan pun sesuai dengan keseharian yang kita temui dalam kehidupan kita sehingga film ini sama sekali tidak asing.

Selain itu music yang digunakan juga sangat tepat dan berani memainkan emosi. Kamu pun tidak perlu takut dengan isu kristenisasi dalam film ini. Toh jika imanmu kuat, kamu tidak akan goyah tatkala mendengar lagu Nasrani. Rasanya kita harus belajar menerima keragaman dalam berdoa agar meneguhkan iman kita terhadap apa yang kita percayai.

Dipastikan film ini merupakan kerjasama yang luar biasa antara para kru film dan perannya karena terlihat sekali bagaimana film ini sangat baik digarap dan melibatkan niat yang begitu mulia untuk membagikan kisah ini kelayar bioskop. Begitu pula dengan acting para aktor yang begitu meyakinkan dan mengena terutama saat mereka berupaya menggambarkan ikatan antara adik kakak yang terus saling melindungi dan mengasihi.

Film ini juga sangat cocok untuk mengisi liburan lebaran kamu bersama keluarga dan kerabat kamu untuk meningkatkan rasa kebersamaan dalam perbedaan. Karena hal inilah yang diperlukan untuk Indonesia saat ini. Dialog serta refleksi terus menerus atas kejadian yang kita hadapi, serta bagaimana kita menghadapi perbedaan dan masalah yang ada sangat dibutuhkan.

 

 

Back to Top
%d bloggers like this: