Kita dan Tragedi di Amerika: Bukan Siapa Paling Menderita, tapi Kapan Berkaca

Akhir-akhir ini ramai tentang tragedi kematian George Floyd di Amerika. Floyd tewas ketika dibekuk polisi, lalu memicu gelombang unjuk rasa. Amerika membara. Tagar Black Lives Matter pun menggema, termasuk di kalangan netizen Indonesia.

Namun, keprihatinan netizen kita mendapat teguran dari sesama netizen Indonesia yang merasa bahwa selama ini kita sering kali abai terhadap tragedi kemanusiaan di negeri sendiri.

Sebetulnya tidak ada yang salah dengan bersimpati atau menyampaikan perasaan duka dan dukungan moral atas tragedi di Amerika. Begitu juga dengan netizen yang menegur sesama netizen Indonesia: bagaimana bisa kita ikut heboh menggaungkan tagar Black Lives Matter, sementara tagar untuk kasus-kasus kemanusiaan di Papua, sepi?

Ini bukan siapa yang paling parah atau menderita, ini tentang keabsenan kita. Absen dalam merespons isu-isu yang ada, baik di Indonesia, Amerika, maupun dunia.

Betul, termasuk soal rasisme. Rasisme ada di mana-mana. Tapi, kapan terakhir kali kita berkaca pada rasisme di komunitas sendiri? Tak perlu jauh-jauh, semisal di komunitas terkecil seperti keluarga. Banyak orangtua yang sering kali mencekoki anaknya sejak kecil dengan bias-bias rasisme, kok.

Sampai hari ini, orangtua memaksa saya untuk menikah dengan orang yang seagama. Begitu pula dengan pasangan saya, dimana orangtuanya memaksa dia untuk menikah dengan orang yang satu etnis. Kami tegur dan menolak itu.

Belum lagi, adanya anggapan bahwa tokoh-tokoh agama maupun cendekiawan keturunan Arab itu lebih Islami. Padahal, banyak cendekiawan muslim asal Indonesia yang juga memiliki pandangan bagus-bagus.

Teman-teman juga sama, terkadang masih rasis dengan orang-orang yang dianggap bukan ‘pribumi’. Apalagi, agamanya beda. Wah, wah… coba deh, cek lagi di keluargamu sendiri. Jangan-jangan anggapan seperti itu masih lestari. Hati-hati lho, itu bibit kebencian. Agama manapun tak mengajarkan hal tersebut.

Lalu, di lingkup yang lebih luas. Semisal, dalam konferensi internasional. Sebagian dari kita lebih suka merujuk pada akademisi berkulit putih ketimbang akademisi Indonesia sendiri. Sampai-sampai saat main aplikasi kencan, lebih memilih untuk geser ke kanan ketika muncul orang ‘bule’. Katanya sih sekalian mau belajar Bahasa Inggris, tapi nyatanya ingin memperbaiki keturunan. Halahh!

Jadi, kapan nih terakhir kali kamu menegur keluarga, teman, dan orang-orang di sekitarmu karena masih rasis? Termasuk, yang homofobik dan transfobik?

Lantas, kapan kamu mempertanyakan slogan-slogan nasionalisme yang sempit? Chauvinisme? Kapan pula kamu merasa menjadi bangsa yang maju, sehingga merasa paling berhak mengintervensi bangsa-bangsa di negara yang katanya berkembang terus nggak maju-maju?

Saya pernah menghabiskan dua tahun di Nigeria, tapi tetap saja dicekoki rasisme oleh orang Indonesia. Apalagi, setelah terungkap jaringan perdagangan narkotika Nigeria-Jakarta. Kedatangan mereka di sini langsung dicurigai. Lah, jaringan ini melibatkan pihak kita juga, apakah orang-orang Indonesia yang ke Nigeria pantas dicurigai juga? Kalau saya ke sana lagi bisa dicurigai dong?

Nyatanya, bias-bias itu masih ada. Kita bisa lihat sendiri bagaimana komedian berkulit hitam Gina Yashere yang warga negara Inggris juga dicegat petugas imigrasi di Bali karena disangka membawa narkotika. Ini bukti negara kita rasis.

Pun, memiliki teman dan anggota keluarga yang berbeda ras tidak menjamin kita tidak rasis. Ada yang bilang, “Aku punya teman berkulit hitam, aku nggak rasis.” Tidak seperti itu juga, kawan… masih ada bias-bias rasisme.

Ketika ada berita soal kasus-kasus kemanusiaan di Papua, ada juga yang bilang, “Teman saya yang orang Papua nggak gitu tuh.” Lalu, dia mengelak bahkan menyangkal tragedi di Papua dengan berkata, “Ah, itu hoaks! Jangan provokasi!”

Ada kan yang begitu? Banyak…

Tapi kak, nggak semua orang kita yang teriak Black Lives Matter seperti itu, lho. Baiklah, mungkin tidak, tapi nyatanya di kalangan netizen Indonesia, tagar BLM tersebut lebih ngetren dibandingkan perlawanan masyarakat di negara sendiri.

Semua penindasan sama parahnya, sama sedihnya, namun ketidakhadiran teman-teman terhadap berbagai kasus di negara kita – tapi ikut menggemakan Black Lives Matter – lebih terasa. Ini akibat minimnya berkaca pada diri sendiri dan komunitas kita.

Membongkar rasisme itu pekerjaan panjang dan terus menerus. Ya itu tadi, jangan-jangan tanpa sadar kita sendiri adalah pelaku rasisme. Kita suka menunjuk siapa yang paling rasis, tapi lupa bahwa diri sendiri juga rasis.

Mudah saja, kalau kamu menganggap artikel ini sebagai provokasi, segeralah berefleksi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top