Membongkar Warna Putih, Ulasan Buku Putih

Jujur saya kebingung memberi judul ulasan ini. Saya merasa begitu banyak mendapatkan pandangan mengenai asal-usul superioritas kulit putih dari buku Putih karya L. Ayu Saraswati yang diterbitkan oleh Marjin Kiri. Apa yang saya baca dari buku Putih ini sangat memberikan komprehensif menjelaskan bagaimana superioritas terhadap kulit yang disebut Putih ini berasa, sehingga tidak mungkin diringkas dalam satu judul. Saya pun merasa perlu turut mengapresiasi Ninus Andarnuswari karena terjemahannya sangat bagus dan rapih serta kontekstual namun tetap memberikan rasa si penulis dengan jelas. Ninus juga memiliki perspektif feminis sehinga padupadanan kata sangat tepat disampaikan dalam buku ini.

Buku Putih menyajikan sejarah bagaimana kulit Putih dan warna itu sendiri sangat diagungkan. Kita cenderung melihat bahwa adanya pengaguman yang berlebihan terhadap kulit Putih itu sendiri berasal dari kolonialisme namun sejarah Putih di tanah Jawa dapat menjadi standar kecantikan berasal dari sebelum peradaban pra kolonial. Penulis menceritakan bagaimana masyarakat Hindu yang berasal dari India mengadaptasi epos Ramayani. Namun disaat itu kata Putih berupaya memberikan ‘rasa’ ketika tarian Ramayana hendak ditampilkan. Selain itu penjelasan terhadap Putih selalu dikaitkan dengan Bulan sebagai perumpaman.

Memasuki masa penjajahan, disinilah makna Putih kemudian menjelma menjadi makna Putih ras terhadap orang kaukasia. Menjadi layaknya orang Putih, orang Indonesia mulai mengadopsi gaya hidup orang Belanda terutama pada kalangan bangsawan dan priyayi. Disini Putih tidak hanya menjadi penanda ras, namun Putih menjadi status sosial. Putih berkembang dari rasa hinga menjadi supremasi dan sebuah bentuk modernitas baru yang dianggap lebih maju ketimbang masyarakat primitif. Selain itu, konteks ras Putih juga mulai melibatkan orang-orang dari Asia Timur yaitu orang Jepang dan Tionghoa yang merupakan pendatang atau yang sudah lama bermukim di Indonesia. Mereka dinobatkan sebagai orang Eropa hanya karena putihnya kulit mereka.

Buku Putih bisa didapatkan di Marjin Kiri

Konteks Putih kemudian dijelaskan selanjutnya dalam konteks pasar. Perjalanan Putih dijelaskan bersamaan dengan sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Sebagai bentuk melawan imperialisme, Soekarno menolak adanya investasi asing dan pengaruh budaya barat. Di era ini iklan sabun yang menggunakan terminologi Putih berkurang namun produk kecantikan lokal cukup banyak menggunakan model Indonesia yang kulitnya lebih terang. Ketika Soeharto berkuasa, masuknya pasar dunia ke Indonesia mengubah bagaimana kulit putih dilihat. Putih kaukasia diimpor bersamaan dengan majalah-majalah serta hiburan-hiburan yang berasal dari luar negeri.

Penulis juga melakukan wawancara yang mendalam terhadap beberapa koresponden perempuan dan sikap mereka terhadap penampilan kulit mereka yang tidak putih. Disini penulis mengeksplorasi kata malu yang digunakan oleh perempuan yang dikatakan tidak memiliki kulit putih. Perasaan malu karena memiliki kulit hitam juga membuat mereka menggunakan krim pemutih. Disini penulis dengan pandai mngungkap bagaimana perempuan dengan sembunyi-sembunyi menggunakan krim pemutih  untuk tidak menjadi perhatian karena kulitnya lebih hitam. Kulit putih dianggap sebagai sebuah kenormalan karena tak menarik perhatian sedangkan kulit yang cenderung hitam dapat mengungang perhatian dan perisakkan yang tak diinginkan.

Yang menarik adalah warna kulit yang dianggap putih ini tak lagi dianggap penting tatkal seseorang sudah mencapai status eknomi tertentu. Perempuan tak lagi menggantungkan standarnya pada kulit putih karena mereka tak mengukur dirinya dari warna kulitnya yang akhirnya dijadikan daya tarik bagi lelaki. Tentunya penulis menyadari bahwa penelitiannya masih sangat heteronormatif pada konteks Indonesia, namun pada 4 orang perempuan lesbian yang ia temui ia juga menemukan pendapat yang sama bahwasannya perempuan yang lebih putih kulitnya dianggap lebih menarik, tetapi bukan berarti itu bisa dijadikan kesimpulan atau acuan terhadap preferensi perempuan lesbian.

Penulis juga mencoba membandingkan tren penggelap kulit yang dilakukan oleh orang kaukasia dan tren pemutih yang dilakukan oleh orang non kaukasia. Tentu saja ada relasi yang berbeda karena orang kaukasia punya kontrol dan kuli putih mereka masih menjadi standar dan norma dunia sedangkan orang non kaukasia tidak punya kontrol yang sama dan relasinya pun berbeda.

Tentunya penelusuran supremasi Putih sebagai suatu rasa, status, norma, pasar, malu tidak berhenti disitu saja. Saya tidak bisa merangkum apa yang saya baca ke dalam kurang dari 700 kata. Namun yang saya suka dari buku ini adalah perjalanan sejarah yang diceritakan dari berbagai perspektif dan situasi perpolitikan dunia. Proses penulis membongkar putih melihat dari sejarah dunia hingga pasar serta dari sudut komunikasi dan psikologi. Tentunya proses ini adalah proses dekolonialisasi yang tak melupakan perspektif perempuan karena tentunya perempuan yang menjadi korban dari supremasi putih ini.

Dari semua referensi bacaan yang ia jelaskan, membuat saya penasaran, ini penulis baca buku apa saja sih? Belum lagi dengan wawasannya sang penerjemah yang cukup lihai menjelaskan apa yang hendak disampaikan penulis karena tidak semua penerjemah memiliki bahasa pengetahuan yang sama dengan apa yang hendak diterjemahkan.

Sangking bagusnya buku ini, saya menyelesaikannya dalam sehari. Jarang sekali saya bisa menyelesaikan sebuah bukudalam sehari. Tentu saja buku ini ada beberapa kekurangan karena buku ini merupakan desertasi dan hasil penelitian penulis sehingga tidak semua bisa ia ungkapkan namun ia berhasil menjelaskan dengan baik. Tentunya penggunaan perspektif feminis tidak untuk berpihak tapi untuk memberi penjelasan terhadap pembaca mengenai dampak sebuah norma Putih  terhadap perempuan.

Saya sangat merekomendasikan buku ini terutama bagi teman-teman mahasiswa yang sekedar ingin memahami feminisme hingga proses dekolonialisasi, atau mahasiswa hubungan internasional yang hendak memahami soft power negara-negara dalam mengimpor pemahaman, atau mungkin mahasiswa komunikasi dan psikologi yang hendak mendalami standar kecantikan di Indonesia.

Untuk mendapatkan buku ini, kamu bisa mendapatkannya di Marjin Kiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top