Menemukan Diri dalam Sudjinah, Ulasan Buku Terempas Gelombang Pasang

Penting bagi saya menyelusuri sejarah perempuan Indonesia terutama aktifis perempuan yang gerakannya dipadamkan oleh Soeharto di era Orde Baru. Penelusuran saya kali ini berujung pada buku Terempas Gelombang Pasang, memoir yang ditulis Sudjinah pada tahun 1965 hingga ia dibebaskan. Sudjinah adalah seorang wartawati Indonesia yang merupakan anggota aktif DPP Gerwani dan akti bekerja sebagai penerjemah. Sudjinah mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Sejak muda Sudjinah sudah menulis banyak pengalamanperempuan Indonesia dan sudah banyak mengikuti kongres perempuan di luar negeri, demikian juga saya yang melakukan banyak dokumentasi kisah perempuan dan terpilih untuk mengikuti pertemuan di luar negeri karena sering menulis.

Seperti memoir yang dituliskan oleh Dr. Sumiyarsi, Sudjinah menceritakan beberapa saat sebelum terjadinya Genosida 1965 serta kriminalisasi massal terhadap orang-orang yang disinyalir terlibat dengan PKI. Padahal Gerwani adalah organisasi yang terpisah dengan PKI.

Ketika “G30S PKI” dilaksanakan oleh Soeharto, Sudjinah tidak langsung ditangkap.  Ia bersama teman-temannya bersembunyi dan menyamar berkali-kali sambil menyebarkan pamflet untuk tetap setia kepada Presiden Soekarno. Tak lama ia ditangkap setelah berkali-kali merubah penampilannya. Ia pun diinterogasi habis-habisan dan ditelanjangi di dalam rumah setan, sebuah gendung tua yang dipakai untuk sekolah khusus warga Tionghoa. Di dalam rumah setan ia dan kawan-kawannya disiksa hingga para interogator mendapatkan jawaban yang mereka inginkan. Banyak sekali orang yang meninggal karena disiksa tatkala mereka di interogasi.

Selanjutnya Sudjinah menceritakan mengenai kehidupannya di penjara Bukitdiri. Ia menceritakan bagaimana ia bertahan dalam isolasi dan mencari hiburan serta kegiatan yang dapat ia lakukan untuk menambah uang saku. Di penjara ia menemukan persahabatan dan kekeluargaan bersama tahanan kriminal lainnya. Sudjinah sendiri yang sebelumnya menulis dan menceritakan kembali hasil wawancara dengan tokoh-tokoh dunia, kini ia dengan rendah hati mendengarkan dan mencatat cerita-cerita tentang para tahanan kriminal perempuan yang harus melakukan tindakan kriminal untuk bertahan hidup. Baginya sejahat apapun mereka, mereka tetap memiliki sisi kemanusiaan. Para tahanan kriminal tidak memikirkan bahwa mereka ini tahanan politik yang dianggap memiliki pemikiran berbahaya oleh negara, namun mereka memiliki solidaritas yang tinggi terhadap bagaimana penjara memperlakukan tahanan mereka, sehingga tak jarang para tahanan berbagi makanan secara diam-diam. Momen yang paling saya suka dari cerita ini adalah bagaimana tahanan kriminal melemparkan sebungkus singkong goreng lezat ke atapnya ketika ia sedang dalam sel isolasi.

Sudjinah juga merupakan orang yang sangat selfless alias tidak egois. Setelah 8 tahun dipenjara, ia baru diadili, disitu pula ia turut menyuarakan hak untuk proses peradilan bagi perempuan remaja yang berusia 14 tahun ketika ditangkap serta dituduh mencungkil mata dan memotong alat kelamin para jenral. Mereka dituduh sebagai anggota Gerwani padahal mereka saja belum cukup umur untuk bergabung menjadi anggota Gerwani. Padahal menurut visum yang dilakukan oleh dokter dan juga telah dipublikasi, para jenral tidak mengalami pencongkelan mata dan pemotongan alat kelamin. Sudjinah juga menjelaskan bagaimana Tarian Harum Bunga adalah propaganda yang dibuat-buat untuk menjatuhkan Gerwani.

Ya coba kamu pikir, yang dituduh melakukan pencongkelan mata dan pemotongan kelamin aja anak remaja perempuan umur 14 tahun. Untuk apa pula remaja putri melakukan hal itu? Apa untungnya? Sudjinah kemudian menjelaskan mengenai Tarian Harum Bunga sendiri juga merupakan reaksi dari tahanan remaja perempuan yang ditelanjangi, disiksa dan disetrum yang kemudian di rekam videonya oleh para interogator di rumah setan kemudian dinamai Tarian Bunga Harum.

Sudjinah kemudian menceritakan bagaimana tekanan dunia internasional akhirnya membuat dirinya bebas dari tahanan politik dengan adanya kunjungan dari Palang Merah Internasional dan beberapa organisasi kemanusiaan lainnya. Selain itu, Sudjinah tiada hentinya menulis. Ia menulis tentang pengalaman dirinya, menulis cerpen dan puisi serta kisah-kisah para tahanan kriminal perempuan. Dengan cerdiknya ia mencatat itu semua di atas kertas yang ia minta kepada petugas dan ia katakan kertas itu unutk menggambar rancangan kerajinan tangan. Ia kemudian menyelipkan tulisan-tulisan tersebut kepada seseorang yang berpura-pura sebagai mahasiswa agar tulisan tersebut disimpan dan kelak dikembalikan padanya.

Selayaknya perempuan menulis, Sudjinah berhasil mengangkat pengalaman hidupnya ke dalam tulisan. Ia ingat setiap detailnya dan dengan sederhana serta rendah diri membiarkan pembaca menilainya sendiri. Ia selalu punya akal untuk mengelabui petugas dan  mencari cara untuk bertahan hidup di bawah kekurangan.

Saya melihat diri saya dalam Sudjinah. Karena kami berdua penulis, kadang saya berfikir bahwa saya bisa saja seperti dirinya. Penulis-penulis seperti saya dan Sudjinah sangat rentan terkena persekusi dan perisakkan. Namun yang paling parah adalah kriminalisasi dan tentu saja pembunuhan. Sudjinah dan saya memang hidup di jaman yang berbeda namun fasisme dan fanatisme terhadap sebuah rezim dapat membuat orang bertindak semena-mena. Tak bisa dipungkiri apa yang terjadi pada Sudjinah bisa terjadi pada saya. Namun saya tidak takut untuk terus bergerak dan melawan.

Alasan saya kenapa saya memilih membaca buku ini adalah karena penting bagi saya untuk merawat ingatan perempuan terdahulu yang turut memperjuangkan hak-hak perempuan. Ini juga sebagai pengingat bahwa fasisme akan selalu ada dan siap menyerang perempuan. Perempuan yang lantang bersuara akan terus mengalami fitnah keji mengenai seksualitasnya dan hal ini digunakan sebagai senjata oleh orang-orang fasis nan puritan untuk menjatuhkan gerakan perempuan. Dan tentunya saya ingin terus melestarikan pengalaman perempuan dengan terus menghargai tulisan-tulisan mereka.

Buku Terempas Gelombang Pasang dapat ditemukan di Tokopedia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top