Menulis Suara Perempuan: Tips dan Trik

Tak jarang saya menemukan perempuan yang mengirimkan saya pesan. Isi dari pesan tersebut meminta saya untuk melihat dan meninjau kembali sebuah tulisan yang mereka tulis dan hendak dipublikasikan untuk umum. Ada pula yang meminta saya berkolaborasi dengannya untuk menulis bersama. Namun setelah saya membaca tulisan mereka, saya ingin segera menyudahinya.

Tentu saya menemukan kesulitan untuk tertarik pada banyak tulisan yang dikirimkan pada saya. Bukan karena topiknya yang tidak menarik, saya menikmati membaca gagasan-gagasan baru pemikir perempuan masa kini karena mereka mengajari saya mengenai pengalamannya sebagai perempuan. Hanya saja banyak yang tidak tahu bagaimana menulis dengan struktur.

Seringkali, tulisan yang saya dapatkan hanyalah pemaparan-pemaparan dari apa yang saya sudah tahu, atau hanya curhatan kemarahan atas pengalaman apa yang terjadi padanya. Ya tentu, saya mempertimbangkan pembaca lainnya yang mungkin tidak memiliki pengetahuan yang sama seperti saya. Akan tetapi saya menemukan kesulitan untuk terus tertarik membaca. Terlebih lagi, pemaparan tersebut hanya mengutip dari berbagai sumber layaknya makalah.

Di tengah-tengah tulisan ketika saya sudah tak tertarik lagi membaca tulisannya, saya pun menemukan konflik batin… Kenapa? Kenapa aku harus mau tertarik membaca tulisan ini?

Tentunya pertanyaan ini muncul karena saya tak melihat adanya gagasan yang mau dibawa, alias… “Ini penulis maunya ngomong apa sih?”

Bawa gagasan baru

Penulis perempuan perlu membawa ide gagasan baru atau tesis yang sebelumnya tak terpikirkan oleh siapapun. Ide itu harus kita bawa dari awal tulisan kita ditemani dengan argumen-argumen pada paragraf berikutnya. Selain itu, ide ini harus segar dan tak terdengar sebelumnya terutama dari masyarakat patriarkis.

Jangan bertele-tele menceritakan perbincangan kamu

Sebagai tambahan, pengalaman perempuan hanya menemani penulis di awal tulisannya saja. Tak perlu bertele-tele menceritakan hingga dikutip seluruh perbincangan yang dia alami. Cukup satu hingga dua kalimat saja, karena perbincanganmu mungkin saja sudah pernah dialami orang lain sehingga tak perlu ditulis semuanya.

Beri argumen yang kuat dilengkapi data jika ada

Kita harus konsisten dengan ide dan gagasan yang kita bawa di awal tulisan dengan terus membawa argumen yang makin menguat dan mendukung argumen di awal. Berikan data-data hasil penelitian yang kamu dapatkan karena ini bisa membuat pembaca yakin dengan kredibilitas penulis.

Gunakan Bahasa yang Dimengerti dan Lugas

Selain itu gunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh orang awam. Anggap saja kamu sedang menceritakan masalah kamu dengan teman kamu yang tidak satu jurusan denganmu, sehingga kamu harus bisa membawa ide gagasan kamu dengan bahasa yang sederhana.

Penulis pun harus menyadari, bahwa kita harus lugas dan tegas mengungkapkan pemikiran kita. Hindari bahasa-bahasa yang ribet. Kamu tidak sedang memamerkan kepintaran kamu dengan bahasamu yang mbulet itu tapi kamu sedang mengajak dan meyakinkan orang untuk setuju dengan pemikiranmu. Tanggalkan egomu untuk terlihat hebat dan intelek.

Hindari Kalimat Panjang

Usahakan untuk menggunakan kalimat pendek yang mudah dicerna. Baca kembali apa yang kamu tulis dan tempatkan diri kamu sebagai pembaca dan tanya pada diri sendiri: “Apakah pembaca mengerti apa yang saya tulis?”

Ikuti Petunjuk Redaksi Media

Jika media yang kamu tuju meminta tulisan maksimum sebanyak 800 kata, maka jangan kirim lebih dari 800 kata apalagi mengirimkan 2000 kata. Biasanya saya akan menolak membacanya dan meminta penulis menyederhanakan hingga 800 kata. Pembaca pun juga akan berpikir ulang apakah dia punya waktu untuk membaca tulisan kamu, apalagi jika isinya hanya pemaparan atau curhatan saja dan tak ada ide baru.

Akhiri Tulisanmu Dengan Menguatkan Gagasanmu di Awal

Setelah memaparkan argumenmu, tutup tulisan kamu dengan menulis ulang pernyataan kamu dengan kesimpulan argumen kamu. Kita dapat menutup tulisan kita dengan memberikan solusi dan kritik, kemudian tekankan kembali call to action atau ajakan untuk melakukan perubahan.

Beri Solusi Dengan Perspektif Perempuan dan Ajak Pembaca Membuat Perubahan

Sebagai penulis perempuan harus memberikan solusi menggunakan perspektif perempuan. Nada bicara kita pun tak boleh menggurui seperti penulis lelaki pada umumnya. Penulis perempuan harus bisa merefleksi dengan yang ada pada dirinya dan konteks yang ada di sekitarnya, terutama pada perempuan lain yang dikatakan tidak seberuntung kita.

Kita tidak boleh menggurui perempuan yang tidak memiliki kemampuan dan akses ekonomi dan pendidikan yang sama serta sistem pendukung yang memadai. Menggurui akan membuat pembaca tidak tertarik dan merasa terintimidasi.

Kekerasan Sistematis Harus Dilawan

Kita pun tidak bisa menempatkan perempuan sebagai yang harus terus diberdaya atau diubah pemikirannya jika sistem yang ada tidak mendukung pemberdayaannya. Tujuan kita menulis sebagai perempuan adalah memberikan suara kepada perasaan dan pemikiran perempuan yang tak pernah diutarakan sebelumnya.

Selama berabad-abad perempuan di berbagai penjuru dunia telah mengalami kekerasan sistemik yang mempengaruhi kehidupan perempuan. Kekerasan sistemik inilah yang membuat perempuan terhambat, oleh karena itu setiap kritik perempuan yang menulis harus menyasar pada kekerasan perempuan yang tersistematis, entah itu pada negara atau budaya yang membenarkan kekerasan tersebut.

Ingat, kita sedang berupaya membuat orang tertarik dengan pemikiran kita dan mengartikulasikan perasaan-perasaan yang perempuan alami, bukan menggurui apalagi menghakimi. Maka dari itu kita harus bisa menulis suara perempuan dengan lugas serta mengajak pembaca untuk melakukan perubahan dan bersama-sama suara, melawan penindasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top