Perempuan Indonesia itu Melawan, Ulasan Buku Sejarah Perempuan Indonesia

Buku Sejarah Perempuan Indonesia adalah buku wajib setiap perempuan Indonesia yang hendak mempelajari feminisme. Sebelum kita mempelajari feminisme dan praktiknya lebih dalam, ada baiknya kita menoleh ke belakang dan merefleksi bagaimana perempuan di era kolonialisme dan paska kemerdekaan berjuang untuk hak-hak mereka.

Buku ini menjelaskan dari awal mengenai peradaban masyarakat Indonesia. Ternyata banyak sekali adat-adat di Indonesia yang sudah menjunjung tinggi hak-hak kesetaraan antara perempuan dan lelaki. Perempuan ditetuakan dan dimintakan pendapatnya dalam mencarikan solusi atas permasalahan yang ada. Bahkan lelaki yang berasal dari adat yang mentetuakan perempuan di masyarakatnya ikut marah ketika Belanda hendak mencabut hak pilih mereka. Baik Perempuan dan Lelaki Indonesia sudah lama saling bekerja sama untuk menjaga perdamaian dan keharmonisan masyarakatnya. Jika perempuan dalam sebuah adat memiliki tugas dalam ranah domestik itu tak berarti derajat mereka lebih rendah. Justru mereka mengatur kehidupan sosial dari ranah domestiknya dan keduanya dilihat setara. Pekerjaan domestik diakui sama berharganya dengan pekerjaan publik. Perempuan tak dibuat bergantung pada lelaki. Perempuan bekerjasama dengan lelaki untuk menghidupi keluarganya. Ini menjadi keunikan kekayaan adat di Indonesia dan hal ini tidak ada dalam kebudayaa Eropa di kala itu.

Sejarah peradaban perempuan di Indonesia, ini penting untuk ditulis dikarenakan tak jarang kita terlanjur silau dengan teori-teori dan pergerakan feminisme, padahal di negara kita sendiri, kita sudah memiliki masyarakat yang menghargai kesetaraan namun apa yang terjadi? Ketika Belanda datang dan juga ketika tafsir agama diperberat dengan narasi patriarkal dan misoginis, semangat kesetaraan itu hilang. Kepentingan Belanda untuk meraup keuntungan dan diteruskan oleh okupasi Jepang telah merugikan perempuan. Perempuan akhirnya dibuat bergantung kehidupannya kepada lelaki.

Selama Perempuan bergerak sebelum dan sesudah kemerdekaan, masalah perempuan dari seabad lalu hingga kini masih sama saja, yaitu poligami, buta huruf (jika dikaitkan dengan hari ini, masih banyak perempuan yang hanya lulusan SD saja), perkawinan anak, akses terhadap ekonomi dan kesehatan yang buruk, timpangnya upah antara perempuan dan lelaki, kekerasan seksual, gizi buruk, tingkat kematian ibu dan anak, dan banyak lagi. Anehnya dimasa itu hingga hari ini masih ada saja perempuan yang menjadi agen Patriarki dalam membenarkan poligami, umumnya mereka berasal dari kelompok Muslim. Namun di masa itu sudah ada perempuan yang lebih radikal yang menentang poligami, contohnya dari organisasi Isteri Sedar yang dengan vokal menolak pembenaran poligami. Pemimpin Isteri Sedar itu pun tak tanggung-tanggung meninggalkan ruangan jika masih ada pembelaan terhadap poligami karena bagi mereka menolak poligami adalah mutlak. Oleh karenanya perempuan-perempuan di masa itu terus meminta para ulama dan ahlinya mengkaji terkait undang-undang perkawinan, dan ini terus dilakukan walau mendapatkan penolakkan.

Pergerakan perempuan juga sangat memfokuskan diri dengan menjamin pendirian berbagai sekolah yang dikhususkan untuk Perempuan. Sayangnya Belandalah yang pertama kali menghambat upaya untuk memajukan perempun Indonesia itu sendiri. Mereka menyatakan bahwa tidak ada dana yang mencukupi untuk membiayai sekolah perempuan. Bayangkan negara yang katanya menjunjung tinggi kesetaraan hari ini dulu sangat menindas perempuan Indonesia. AKhirnya permpuan Indonesia bergerak sendiri mendirikan sekolah-sekolah ‘liar’ dimana tak ada intervensi dari Belanda sedikit pun walaupun tak jarang Perempuan juga ditangkap dan dijatuhi hukuman karena mendirikan sekolah tersebut. Namun sekolah liar ini menunjukkan perlawanan Perempuan terhadap kolonialisme. Mereka menciptakan metode sendiri untuk perempuan agar dapat terdidik dan memiliki pengetahuan dasar. Adapula sekolah kejuruan seperti kebidanan yang berupaya menggabungkan pengetahuan-pengetahuan lama mengenai melahirkan yang digabungkan dengan pengetahuan moderen terkait kebidanan. Hal ini tak hanya membantu perempuan agar dapat melahirkan dengan selamat dan bersih namun juga membantu memberdayakan perempuan-perempuan muda. Eyang saya yang seorang bidan adalah salah satu dari hasil wujud nyata program tersebut. Berkat program kejuruan kebidanan banyak dari keluarga saya yang bisa menjadi bidan di desa-desa kecil dan memberdayakan dirinya.

Selain itu, wujud dari upaya gerakan perempuan di era tersebut adalah adanya tempat pengasuhan anak yang digagas oleh organisas perempuan seperti Gerwani. Gerwani juga melatih perempuan agar bisa terampil menjadi guru dan mengasuh anak-anak yang dititipkan agar perempuan lain dapat bekerja dengan tenang dan aman. Pada masa tersebut juga telah didirikan kelompok kerja yang berfokus kepada perdagangan manusia terutama perdagangan perempuan dan anak. Ini sungguh menarik dikarenakan konektivitas dan jejaring sudah cukup baik.

Yang saya juga kagumi adalah banyak perempuan di masa tersebut sudah menerbitkan majalah atau koran pribadi yang merupakan hasil buah pikir anggota organisasi perempuan yang sangat beragam. Setiap organisasi mengeluarkan terbitan untuk dapat dibagikan dan dibaca oleh perempuan. Ini menarik karena hari ini tidak banyak medium pemikiran perempuan yang beredar dalam bentuk cetak, yang ada hanya dalam bentuk online seperti Magdelene.co, VoxPop.id dan Konde.co. Media tentang perempuan jarang sekali mengulas pemikiran perempuan dan hanya berbicara mengenai produk-produk saja.

Hal lain lagi yang cukup membuat saya kagum yaitu didirikan TIGA Bank yang dikhususkan untuk Perempuan. Hal ini juga bersamaan dengan semangat melawan poligami. Di masa itu, perempuan yang menjadi korban poligami akan menggunakan uang mereka untuk bersolek karena bersaing dengan istri lain, namun perempuan yang monogami akan belajar untuk menyimpan uangnya sehingga mereka tidak bergantung lagi pada suami mereka. Adanya Bank dan upaya untuk menghentikan poligami secara sistematis dilakukan agar Perempuan berdaya dan bisa berdiri sendiri. Bank juga didirikan agar perempuan dapat melindungi diri dari lintah darat yang dapat menggerogoti perempuan.

Ada banyak pelajaran yang bisa di ambil dari buku ini dan tentu tak bisa saya ulas. Penulisnya, Cora Vreede-de Stuers juga seorang Indonesianis. Dalam penelusurannya dan penulisannya, ia sangat berlaku adil dalam menuliskan perempuan Indonesia. Ia tidak mengambil sudut layaknya feminis kulit putih namun melihat sejarah Indonesia yang penuh dengan kekayaan adat yang menjunjung tinggi kesetaraan. Walaupun buku ini mempersingkat sejarah perempuan Indonesia namun ia dapat membantu kita memahami bagaimana pergerakan perempuan di Indonesia.

Kita bisa menggunakan buku ini untuk merefleksikan dimana posisi perempuan Indonesia berada dan bagaimana kita melawan patriarki. Perlawanan tak boleh berhenti karena nyatanya ada masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi kesetaraan dan menaruh hormat penuh pada perempuan utnuk mengisi posisi publik dan ini telah terbukti memberikan kedamaian dan kesejahteraan bagi Perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top