Meneladani Tapol Perempuan, Ulasan Buku Plantungan Pembuangan Tapol Perempuan

Ketika saya melihat, sebuah toko buku perempuan di Jogja yang menyediakan ruang baca dan menjual buku-buku yang ditulis perempuan menjual buku Plantungan Pembuangan Tapol Perempuan yang ditulis oleh Dr. Hj. Sumiyarsi Siwirini C, saya langsung membelinya. Saya memang sedang mengumpulkan segala buku mengenai sejarah perempuan Indonesia. Sebelumnya saya sudah memiliki buku karya Mia Bustam, namun buku itu belum saya selesaikan karena tebalnya dan besarnya buku itu yang membuat saya kesulitan membawa buku itu kemanapun saya mau.

Awalnya saya memiliki ketakutan karena biasanya saya suka bosan di tengah-tengah buku dan berhenti membacanya. Buku Emma Goldman dan Clara Zetkin saja masih belum selesai saya baca. Namun yang saya suka dari buku dr. Sumiyarsi adalah caranya ia menuliskan kesehariannya apa adanya tanpa pretensi. Tulisannya sangat jujur dan mudah untuk dicerna, sehingga saya terus ketagihan membaca dan ingin mengetahui bagaimana perjalanannya menjadi tahanan politik di tahun 1965-an.

Dr. Sumiyarsi memang tidak bicara dengan bahasa teoritis seperti pemikir perempuan lainnya, namun ia bicara atas nama pengalaman perempuan. Ia menceritakan dirinya ketika ia sedang dalam buronan hingga ketika ia dibebaskan. Permulaan bukunya cukup kelam dan mencekam ketika ia ceritakan mengenai bagaimana ia ditangkap. Namun kesan yang kutangkap ketika ia bercerita mengenai kesehariannya adalah ia tiada hentinya aktif mengorganisir klinik yang dia pimpin di kamp Plantungan.

Mengorganisir klinik dengan alat dan bahan sederhana bukanlah hal yang mudah, namun ia mampu bertahan dengan sekadarnya. Ia kemudian menceritakan mengenai bagaimana ia menghadapi pasien-pasien perempuan serta dampak kesehatan yang mereka alami dibawah tahanan.

Aku melihat diriku padanya. Walaupun aku tidak begitu dalam menggeluti profesi dokter gigiku namun aku bisa merasakan adanya kesamaan sebagai sesama tenaga medis. Satu hal yang kuingat tentang tulisannya adalah ketika ia menceritakan mengenai perempuan yang diperdaya untuk menjadi perempuan penghibur ketika salah satu pejabat desa Plantungan kehilangan istri. Perempuan tersebut ditawarkan oleh komandan kamp Plantungan. Perempuan tersebut ditangkap ketika ia masih remaja sehingga ia belum cukup pengalaman dan tidak memiliki daya untuk menolak hubungan seksual sehingga sudah tentu ia diperkosa.

Alhasil perempuan tersebut hamil. Anaknya pun diasuh oleh salah istri kamp komandan. Perempuan tersebut kemudian diambil lagi sebagai pengurus rumah tangga namun tak lama ia hamil anak kedua. Pola-pola tersebut terus terjadi di kamp terutama pada perempuan muda yang ditangkap ketika usia mereka hanya belasan tahun. Mereka mendekam di kamp selama belasan tahun dan masa remajanya habis direnggut begitu saja.

Selain itu, tulisan dr. Sumiyarsi mencerminkan spiritualitasnya. Ia bekerja karena rasa cintanya terhadap kemanusiaan serta karena keimanannya yang tak mudah goyah. Ia memercayakan sepenuhnya takdirnya pada Tuhannya dan ini adalah cerminan spiritualitas seorang feminis.

Seorang feminis percaya akan keteguhan hatinya untuk melakukan kebaikan dan memperjuangkan kemanusiaan untuk orang lain. Ia tidak menggantungkan nilai dirinya pada nilai-nilai patriarkal. Ia percaya bahwa dengan menggantungkan, menyandarkan dan mengimani Tuhan dan nilai-nilai kemanusiaan yang datang dari ketulusan hatinya ia akan mendapatkan kebaikan. Itu saja sudah cukup mencerminkan betapa kuat iman dan spiritualitasnya.

Hal ini tercermin dari bagaimana beberapa perempuan yang sudah sepuh memilih untuk meninggal di samping dia. Dua orang perempuan yang dr. Sumiyarsi ceritakan menderita Kanker Rahim dan TBC, namun keduanya memutuskan menghembuskan nafas terakhirnya ditemani dr. Sumiyarsi. Ia begitu sabar dan pengertian melayani dan menemani pasiennya dengan penuh kasih. Ia tabah menghadapi kematian teman-teman yang ia rawat.

Entah kenapa saya percaya dr. Sumiyarsi merupakan seorang yang tulus memperjuangkan hak-hak perempuan bahkan ketika dalam tahanan. Karena ketika itu ia menyarankan kepada tahanan perempuan yang lain untuk protes terhadap beras Erwin yang diberikan kepada tahanan politik perempuan karena beras itu membuat beberapa orang muntah setelah tiga sendok makam. Ia kemudian dituduh menjadi provokator dan penjahat ketika memprotesnya kepada komandan kamp.

Tentu saja, rezim Orde Baru tidak akan suka dengan perempuan yang membangkang dan melawan. Selama ini kita ketahui bahwa Orde Baru sangat kencang mempropandakan nilai-nilai domestik yang dilekatkan pada perempuan. Melihat perempuan yang memperjuangkan haknya dianggap sebagai pengkhianatan kepada rezim laki-laki fasis dan misoginis.

Negara tentunya tidak memihak perempuan ketika perempuan yang dijadikan tahanan politik merupakan pejuang hak-hak perempuan. Dari tulisan dr. Sumiyarsi kita bisa melihat bahwa perempuan yang ditahan adalah perempuan yang memiliki dedikasi tinggi bekerja untuk kemanusiaan, namun mereka ditangkap untuk melancarkan kekuasaan negara imperialis yang hingga hari ini menindas kita.

Dari dr. Sumiyarsi saya belajar banyak hal. Sebelumnya saya sering berkiblat dan mengikuti konteks feminis dari Barat terutama feminis kulit putih. Tak jarang saya merasa tidak memiliki relevansi. Saya juga sempat merasa kehilangan ketika saya tidak memiliki tokoh yang dapat saya teladani. Namun begitu marahnya saya ketika saya mengetahui mengenai sejarah perempuan-perempuan berdaya yang bekerja untuk saling memberdayakan perempuan di desa-desa kecil di penjuru Indonesia ditangkap dan diperlakukan tidak adil.

Saya memang membenci rezim Orde Baru yang juga menghambat saya memenuhi potensi terbaik diri saya. Karena rezim ini, cara didik orang tua saya kepada saya menyempitkan ruang gerak saya sebagai perempuan dan ini membuat saya marah.

Namun kini saya ingin mencontoh keteguhan hati dr. Sumiyarsi, begitu pula dengan gaya menulisnya yang lugas dan apa adanya. Sebagai penulis, tak jarang saya menemukan kesulitan mengartikulasikan perasaan saya dan keadaan yang saya alami. Namun semangat dr. Sumiyarsi yang tergambarkan membuat saya terus teguh untuk berjuang melawan kejahatan negara terhadap perempuan.

Dari dr. Sumiyarsi, ia menunjukkan gaya penulisan pengalaman perempuan. Ia tidak perlu menceramahi pembaca dengan teori-teori yang membuat kamu pusing tujuh keliling namun ia memberikan kamu kebebasan menginterpretasikan tulisannya. Dan kamu sendiri bisa melihat kekuatan seorang perempuan yang tetap bertahan dibawah rezim yang menindas perempuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to Top